WATCHSHIT!

GREENNORD27.ID – Sebelum kita saling berbagi ilmu dan pengalaman perlu kita tekankan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan hasil yang diperoleh oleh Persebaya malam ini. Ini murni sebagai keluh kesah kita sebagai suporter dan pecinta sepak bola Indonesia.

            Siapkan cemilan, Kopi dan Rokok kalian. Mungkin artikel ini sedikit lebih panjang dari biasanya. Jangan mudah terpancing emosi, karena sepak bola sejatinya alat pemersatu bangsa.

            Masalah kompeten apa tidaknya kualitas Wasit saat memimpin suatu pertandingan acap kali menjadi bahan pembicaraan para pengamat sepak bola. Tak terkecuali kualitas korp baju hitam di persepak bolaan Indonesia. PSSI sebagai induk tertinggi sepak bola Indonesia sedang gencar-gencarnya mengadakan seleksi atau pelatihan guna meningkatkan kualitas wasit itu sendiri.

            Mengkutip tulisan di Website resmi PSSI, Wakil Ketua Umum Iwan Budianto juga memaparkan penyegaran wasit dan perangkat wasit dilakukan agar Turnamen Piala Menpora berjalan maksimal. Ini juga sebagai tolak ukur layak apa tidaknya Kompetisi Liga 1 nanti digulirkan.

            Memang program ini lagi gencar-gencarnya,tapi apakah sudah berjalan sesuai apa yang diharapkan?. Adanya alat bantu yang digunakan pada pagelaran Piala Menpora seharusnya membantu wasit utama agar semakin mudah memimpin jalannya pertandingan. Tapi, sepertinya itu tidak sesuai dengan rencana. Jaranganya wasit utama dan asisten wasit mendiskusikan kejadian yang krusial masing sering kita lihat di layar kaca. Bukankah fungsi alat bantu agar mempermudah kinerja?. Hands Ball, Offside, termasuk situasi Advantage yang mengguntungkan suatu Tim untuk mencetak gol.

            Mengacu pada Law Of The Game FIFA, pada poin Wasit. Disitu sangat jelas dikatakan bahwa “allows play to continue when an offence occurs and the non-offending team will benefit from the advantage, and penalises the offence if the anticipated advantage does not ensue at that time or within a few seconds” atau bila diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini “Memungkinkan permainan untuk dilanjutkan ketika sebuah pelanggaran terjadi dan tim yang tidak melakukan pelanggaran akan mendapatkan keuntungan dari keuntungan tersebut, dan menghukum pelanggaran tersebut jika keuntungan yang diantisipasi tidak terjadi pada saat itu atau dalam beberapa detik”. Jadi bila ada suatu Tim yang sedang melakukan serangan walau ada pemain yang dilanggar tetapi situasi lagi menguntungkan untuk Tim yang menyerang Wasit seharusnya tidak menghentikan peluang itu. Apa lagi kejadian ini sering terjadi di menit-menit akhir suatu pertandingan.

            Berkaca pada hasil pertandingan antara PSS Sleman Vs Persebaya Surabaya, menurut catatan Redaksi GN Media masih banyak keputusan wasit yang sekiranya cukup merugikan. Momen yang sangat lucu terjadi saat Rendi Irwan terjebak perangkap Offside. Sangat jelas ditayangan ulang televisi bahwa posisi Rendi dan pemain belakang Sleman masih sangatlah jauh. Namun, asisten wasit mengangkat bendera pertanda berada pada posisi Offside. Dan konyolnya lagi tidak ada sanggahan atau ulusan dari komentator pertandingan. Hal ini ditanggapi Rendi Irwan dengan geleng-geleng kepala.

            Kondisi ini masih sering kita lihat di Turnamen Pramusim, memang kita tidak bisa menyalahkan wasit seutuhnya, tapi setidaknya bekal dan pengalaman pribadi yang dimiliki  sudah cukup untuk memimpin jalannya pertandingan. Kita menganggap masalah ini hanyalah masalah klasik yang tak pernah ada ujungnya.

            Persebaya tampil luar biasa, bukan maksud menghibur hati ini murni suatu kebanggan yang penulis sendiri sampaikan. Turun dengan 100 persen pemain lokal dan Coach Aji berani memberi menit bermain bagi para Alumni Elite Pro Academy (EPA) patut kita acungi dua jempol. Pernahkah kita bayangkan pemain macam Marcelino berduel dan saling menjegal dengan Irfan Bachdim? Akbar yang sangat tenang berkali-kali berhasil mengelabuhi Kim Jefri Kurniawan? Ahh sepertinya kita sama-sama tak pernah membayangkannya.

            Keberanian, mental bertanding dan perlunya menanamkan filosofi wani sangat perlu didoktrin sejak dini. Agar pemain-pemain ini memahahi bahwa mengenakan Jersey Persebaya bukan hanya suatu kebanggan semata, melainkan harga diri Kota Surabaya. Mata ini tak pernah luput melihat aksi brilian yang ditunjukan oleh jebolan kompetisi Persebaya ini. “Cok, yoiki coro main seng kudu diduweni pemain seng gawe seragam Persebaya”. Mungkin itu sedikit umpatan kebahagian yang tersirat saat melihat aksi pemain muda bajol ijo ini.

            Bukan maksud untuk Jumawa, setidaknya ini menjadi gambaran kecil bagaimana peta dan gambaran umum mengenai kekuatan Persebaya dalam mengarungi Kompetisi musim depan. Berbekal pemain lokal, kombinasi pemain senior dan jebolan EPA sedikit banyak mampu mempersulit kontestan lainnya. Apalagi bila nanti Menejemen mendatangkan Pemain Asing di sektor yang sekiranya masih dianggap lemah, BOOM! Kombinasi ini bisa dibilang sempurna. Kepingan Mozaik yang masih hilang memang masih dicari oleh Menejemen Persebaya, tentunya kejelasan mengenai status Liga perlu segera didapat agar kepingan ini segera terkumpul.

            Jangan pernah berkecil hati bila hasil tak sesuai dengan rencana, toh setidaknya pemain tetap berjuang maksimal di lapangan. Beda lagi klo pemain tidak bermain dengan semangat juang tinggi patut untuk kita kritisi.

Salam Satu Nyali, Wani! 

Komentar