WATCHSHIT part 2

Dilihat 110,139 kali

GREENNORD27.ID – Seperti yang sudah sama-sama kita ketahui, Seri dua Liga 1 menimbulkan banyak kontroversi. Kontroversi ini lebih mengarah kepada kepemimpinan korp baju hitam yang lagi “anget-angetnya”dan mendapat sorotan keras dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinannya. 

Tercatata ada 3 (tiga) laga yang perlu kita bahas kali ini.

  1. Persija vs Arema
  2. PSIS vs Barito Putera
  3. Persebaya vs Persela

Pertama, laga antara Persija dan Arema ramai dibicarakan. Kepemimpinan Oki Dwi Putra Sanjaya cukup bisa untuk diperdebatkan. PSSI dan Komite Wasit juga bisa menjadi sorotan. Pemilihan Oki Dwi sebagai wasit utama dirasa kurang tepat, dikarenakan Oki Dwi sendiri berasal dari Bandung yang notabennya adalah “rival” dari Persija. Memang, bila mengacu pada profesionalme hal ini tidak bisa diperdebatkan. Tetapi bila mengacu pada kedaerahn keputusan pemilihan Oki Dwi dilaga kali ini dirasa kurang tepat. 

Kedua, sejatinya Barito Putera mendapatkan kesempatan untuk mencetak gol dan menyamakan kedudukan ketika Bagus Kaffa dilanggar di dalam kotak penalti. Keputusan sang pengadil tidak tepat dan lebih memilih memberi Barito Putera tendangan bebas. Berdasarkan “history” ternyata tidak hanya kali ini saja Bachrul Ulum memberikan keputusan kontroversi. Tercatat saat laga TSC 2016 saat Bali United vs Sriwijaya Fc dan Mitra Kukar vs Borneo Fc. Ditambah laga antara PSIS dan Barito Putera menambah catatan merah baginya dan sudah layaknya mendapat sanksi dari Komisi Wasit itu sendiri.

Ketiga, laga Persebaya melawan Persela dipimpin oleh Musthofa Umarella. Musthofa sendiri menyandang gelar wasit kontroversi. Mengutip tribunnews pada artikel 2020. Musthofa telah memberikan 24 penalti dari 43 laga belum lagi kurangnya komunikasi dengan linesman dalam pengambilan keputusan semakin mengukuhkannya sebagai “Raja Wasit Kontroversi”.

PSSI sebagai induk sepak bola tertinggi di Negeri ini juga ikut menjadi sorotan. Pemilihan pengadil harus berdasarkan pertimbangan yang matang dan tidak melupakan faktor kedaerahan. Jangan sampai hal ini terus berulang, dan mengakibatkan gaung “Mafia Bola” muncul kembali. 

Komite Wasit juga dirasa kurang transparan dalam pemberian hukuman kepada para anggotanya. Harusnya para pengadil yang memang tidak memenuhi standar tidak usah dipakai lagi tenaganya. Suruh mereka sekolah lagi kembali mendapat tugas saat kemampuan sudah jelas.

Dan bila ada indikasi “match fixing” Satgas Anti Mafia Bola harus segera bergerak cepat agar masalah ini tidak melebar dan tidak terjadi lagi intervensi dari Pemerintah dengan gaung mosi tidak percaya, kembali dibekukan kompetisi di Negeri ini.

Bekerjalah semaksimal mungkin PSSI dan Komite Wasit, berikanlah sanksi kepada mereka yang nakal. Tunjukan bahwa kalian mampu. Bila tak mampu silahkan lambaikan tangan kekamera. (mat)

Salam Satu Nyali, WANI!