91 Tahun PSSI, Ini Do(S)a Untukmu

SURABAYA, GREENNORD27.ID – Kemarin pada Senin (19/04), 19 April 1930. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia atau disingkat PSSI secara resmi berdiri, dan menjadi induk organisasi olahraga sepakbola di Indonesia. Mungkin banyak dari kalangan pecinta sepakbola Indonesia telah mengerti perjalanan berdirinya PSSI. Termasuk keberadaan ketujuh klub pendiri, yakni; Indonesische Voetbal Bond Magelang, Vortenladsche Voetbal Bond, Soerabaiasche Indische Voetbal Bond, Voetbalbond Indonesische Jacatra, Madioensche Voetbal Bond, Persatuan Sepakraga Mataram, dan Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond.

            Peringatan 91 Tahun berdirinya PSSI masih banyak menyisakan berbagai permasalahan di dunia sepakbola Indonesia. Hingga kini, belum ada prestasi yang benar-benar dapat menjadi bukti bahwa PSSI sebagai induk organisasi sepakbola Indonesia sudah menjalankan sistem pengelolaan serta pembinaan sepakbola dengan baik. Memang secercah harapan muncul dari kalangan pecinta sepakbola Indonesia melihat sepak terjang Timnas pada kelompokusia muda. Para pesepakbola muda yang kedepan akan menjadi tumpuan serta harapan bagi sepakbola Indonesia ini sedikit lebih baik ketimbang para seniornya.

            Jika Garuda Muda (sebutan untuk Timnas kelompok usia) mampu tampil bagus dan bahkan beberapa kali meraih gelar juara sampai dengan menembus Kejuaraan Junior Asia (AFC Championship U-19). Berbeda dengan Timnas senior yang lebih dari 1 dekade tampil tidak konsisten, bahkan cenderung menampilkan hasil yang tidak memuaskan, yang terbaru adalah kekalahan memalukan dikandang dari musuh bebuyutan kita, Malaysia pada kualifikasi Piala Dunia 2022 dalam laga bertajuk derby Malaya. Hasil ini menunjukkan bahwa ada sistem yang harusnya dibenahi dengan seksama oleh PSSI untuk membuat Timnas dapat bersaing dengan berbagai negara lain.

            Disisi lain, ketika berbicara kompetisi sepakbola yang berjalan di bawah naungan PSSI seperti Liga 1, Liga 2, dan Liga 3, masih menyisakan banyak polemik yang kemudian menjadi kritik terhadap PSSI. Mulai dari aturan mengenai jual-beli klub, denda dan sanksi terhadap klub, hingga simpang siur terkait wacana sistem promosi dan degradasi dari klub-klub yang berkompetisi. Ditambah lagi dengan kasus kerusuhan suporter hingga memakan korban jiwa yang sampai saat ini masih belum bisa diselesaikan oleh pihak PSSI.

            Wacana menuju era liga profesional mungkin hanyalah sebuah mimpi belaka. Banyak dari klub Indonesia yang masih dikatakan belum layak berbentuk sebagai klub profesional. Tunggakan gaji terhadap pemain acap kali menjadi hal yang kerap diketahui oleh berbagai kalangan pecinta sepakbola Indonesia. Ketika berbicara hal tersebut dan membandingkan dengan sistem yang ada di beberapa liga Eropa, klub yang memiliki tunggakan gaji tentu akan mendapatkan berbagai sanksi atau denda karena dianggap tidak bisa menerapkan sistem yang profesional. Karena klub bertanggung jawab dan wajib memenuhi kewajibannya.

            Namun disini yang terjadi adalah sebaliknya, PSSI terkesan untuk membiarkan hal tersebut terus terjadi berulang kali kepada setiap pemain. Bahkan pemain harus membawa kasus ini kepada badan arbitrase olahraga dunia untuk ditindak lanjuti karena merasa bahwa PSSI tidak melakukan tindakan apapun. Padahal dalam penandatangan kontrak antara pihak manajemen klub dengan para pemain, sudah ada ketentuan-ketentuan yang harusnya dapat dipatuhi untuk dilaksanakan.

            Sebagai salah satu klub pendiri PSSI, Persebaya menjadi salah satu korban sebagai klub yang harus dimatikan oleh PSSI pada tahun 2010-2011 lalu. Persebaya menjadi korban, saat itu singkat cerita Persik dan Persebaya harus saling berhadapan guna mengambil satu tempat di babak play-off. Laga harus digelar, Persik harus menang 5-0 agar lolos sedangkan Persebaya butuh kemenangan 3-0 untuk lolos juga. Sedangkan Pelita Jaya hanya tinggal menanti hasil dari ke dua klub. Lucunya, sampai harus 3 kali laga ditunda agar membuat pihak Persebaya  kesal dan enggan untuk bertanding. Otomatis dengan hasil tersebut membuat klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie tidak terdegradasi dari kompetisi Indonesian Super League (ISL). Meski pada akhirnya, Persebaya dapat berkompetisi kembali mulai tahun 2017 lalu.

            Terakhir adalah kasus kerusuhan suporter sepakbola antara Persita Tangerang dan PSMS Medan ditahun 2017 yang melibatkan oknum aparat militer. Hingga kini kasus tersebut tidakmemiliki kejelasan atas bentuk penyelesaiannya. Para pelaku masih bebas berkeliaran tanpadi berhentikan dari institusinya. Proses penyelidikan pun seakan berhenti ditengah jalan.

            Beberapa kasus diatas sedikit memberikan gambaran bahwa PSSI sebagai induk organisasi sepakbola Indonesia masih belum benar-benar berjalan secara maksimal. Tentunya masih banyak lagi kasus-kasus lain yang belum dapat terselesaikan. Lantas apakah patut bagi kita untuk tetap bangga dan memperingati hari berdirinya PSSI?, Tidak bagi kami. Kami mempersilahkan siapapun untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun pada PSSI, namun dalam pandangan kami masih tetap sama. PSSI adalah sebuah organisasi ‘bobrok’ dengan segala polemik beserta permasalahan yang ada didalamnya. (den/red)

Komentar