Bonek

LIGA1 DENGAN PENONTON UNTUK SIAPA?

SURABAYA-GREENNORD27.ID: PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) berencana menggelar pertandingan sepak bola dengan penonton pada Seri 4 BRI Liga 1 2021/2022 yang diselenggarakan di Bali. Rencana pertandingan dengan penonton ini muncul seiring dengan adanya Instruksi Menteri Dalam Negeri nomor 01 tahun 2022. Instruksi tersebut mengatur kegiatan sosial, budaya, pendidikan, hingga olahraga dan salah satunya adalah perhelatan sepak bola BRI Liga 1 2021/2022. Jumlah penonton nantinya akan dibatasi maksimal 25 persen dari kapasitas stadion atau paling banyak 5.000 orang, dan hanya penonton dengan kategori hijau dalam aplikasi PeduliLindungi yang boleh masuk di stadion.

Bisa jadi, kabar ini mendapatkan sambutan positif bagi industri sepak bola nasional. Akan tetapi, kabar ini sekaligus memunculkan banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh PSSI, PT LIB dan bisa juga semua klub yang berlaga. Salah satunya adalah ke mana masuknya pendapatan tiket pertandingan? Apabila ada tiket yang terjual dalam setiap laga, maka siapa yang akan mendapatkan keuntungan? Apakah PT LIB, apakah klub, ataukah penyelenggara pertandingan? Apabila masuk ke kantong PT LIB, maka untuk apakah keuntungan pendaptan tiket itu? Oleh karena itu, secara mutlak transparansi harus menjadi hal yang utama. Berbading terbalik dengan melihat pengalaman di masa lalu, tidak ada perubahan berarti dalam sepak bola Indonesia. Denda-denda di tiap kompetisi dikemanakan tidak pernah ada penjelasan secara transparan. Pembagian hak siar pun juga terjerumus dalam skandal hak siar.

Pengamat sepak bola nasional Erwiyantoro mengungkapkan berdasarkan investigasinya, dokumen perjanjian hak siar menyebutkan bahwa pemegang hak siar dan hak distribusi Liga Indonesia 1, 2, 3 dan Liga U-20 Indonesia selama lima musim 2019-2023 adalah PT Garuda Media Nusantara (GMN). Akan tetapi, faktanya tidak ada kontrak eksklusif. Pertanyaannya, ke mana aliran dana-dana itu semua dan bagaimana hak para pihak yang sudah membayar?. Kuasa Hukum MNC Group, Hotman Paris Hutapea mengatakan kisruh tersebut bermula dari adanya selisih pencatatan dana yang diterima PT LIB dari MNC Group, sehingga menjadi ujung pangkal kisruh pemutusan hak siar ini. “Ada selisih Rp 25 miliar. MNC sudah membayar lunas kontrak hak siar eksklusif senilai Rp 39 miliar yang sebelumnya Rp 20 miliar. Namun, PT LIB dalam pernyataan tertulis pengacaranya menyatakan hanya menerima dana Rp 14 miliar dari MNC. Ke mana raibnya dana ini? Masuk ke kantong siapa?” kata Hotman.

Problem kedua adalah hak istimewa tuan rumah, bayangkan jika PT LIB mematok 5000 tiket untuk dijual, sudah berapa uang yang harusnya masuk untuk keuntungan klub malah lari ke penyelenggara?. Hal ini berbanding terbalik apabila dikaitkan dengan operasional klub, mulai dari sewa stadion sampai biaya operasional tiap pertandingan yang diselenggarakan. Dari sisi venue pertandingan di Seri ke 4 ini, Bali hanya memiliki stadion bagus yaitu Stadion I Wayan Dipta. Bagimana dengan yang lain? Apakah sudah sesuai standar? apabila pemain cidera, siapa yang akan menanggung beban jika bukan klub? dari sini dapat dilihat bahwa, klub terpaksa bertanggungjawab dengan pemainnya yang menderita cidera. Duit dari mana? Sampai kapan harus mengandalkan uang sponshorship dan merchandise jika semua klub memiliki perbedaan soal uang sponshorship dan penjualan merchandise.

Problem ketiga adalah pembagian jatah tiket pertandingan. Selain keuntungan penjualan tiket yang tidak jelas, apakah PT LIB bisa menunjukkan transparansi soal siapa yang berhak mendapatkan tiket, tuan rumah ataukah klub dengan statatus tamu/tandang. Hal ini tentu saja berpotensi menimbulkan kegaduhan karena akan mengundang ribuan suporter klub yang pertanding untuk siap masuk stadion menyaksikan klub kesayangannya berlaga. Dari dulu PT LIB dan PSSI juga selalu melakukan percobaan tanpa kajian mendalam yang justru berujung ketidakpastian. Mau diapakan suporter ini dengan ketidakpastian pembagian jatah tiket? Ketika ada akses pembelian tiket untuk kedua klub yang bertanding, bagaimana antisipasi dengan suporter yang belum mendapatkan tiket?

Problem keempat adalah potensi penyebaran covid-19 varian omicorn yang sudah masuk di Indonesia. Bali merupakan daerah yang termasuk salahsatu dari 11 daerah yang kasus covid-19nya meningkat. Sepak bola adalah olahraga yang paling berpotensi tinggi mengundang pengumpulan dan kerumunan masa yang pasti akan memunculkan pembatasan-pembatasan lainya ke depan terkait penanganan kasus covid-19 di negeri ini. Jikalau PT LIB dan PSSI tidak bisa mengatur dengan detail jatah atau jumlah pembagian suporter yang adil, maka sama saja dengan memancing datangnya masa.

Belum lagi syarat-syarat lainnya yang pasti akan semakin ribet bagi suporter? Tes swab PCR atau antigen? Apakah harus vaksinasi lengkap? Sementara data Kominfo baru 40% terakhir di bulan Desember 2021 penerima vaksin lengkap di Indonesia. jika ada kenaikan jumlah vaksinasi lengkap di awal tahun 2022, juga tidak menutup kemungkinan bisa terserang covid varian baru. Sudah sampai mana antisipasi atau mitigasi yang sudah disiapkan PSSI dan PT LIB? ataukah seluruh pemegang saham PT LIB, klub dan seluruh suporter yang menjadi peserta kompetisi diajak berembug bersama?

Semoga sepak bola di negeri ini semakin sehat lagi!!!

Related posts

Persebaya Kritis: Tidak Dengan Hati Silahkan Pergi!

Redaksi Green Nord

MERAWAT KULTUR SEPAK BOLA INDONESIA

Redaksi Green Nord

PENYERAHAN KOIN UNTUK ANDIK KEPADA MENEJEMEN PERSEBAYA

Redaksi Green Nord