Bonek

Persebaya adalah Jiwa dan Raga, jika tidak bermain dengan hati, silahkan pergi.

Persebaya mengawali musim baru dengan De Javu. Bila tidak ada perubahan dalam segi permainan “biasanya” dipertengahan musim akan terjadi pergantian pelatih. Siklus seperti ini hampir setiap musim berulang. Entah letak kesalahan berada pada Sang Nahkoda? atau terletak pada Awak Kabin? Mari kita bahasa bersama.

Sang Nahkoda:
Aji Santoso adalah Nahkoda Persebaya, apapun keadaannya ia adalah orang pertama yang akan bertanggung jawab dengan hasil yang diraih di akhir Kompetisi. Seperti teman-teman Bonek ketahui bersama, Skuad Bajol Ijo hilang arah dalam 3 laga awal Kompetisi. Iya, Persebaya sempat menang di laga kedua. Di laga ketiga, Tim ini kembali ke setelan pabrik, alias hilang arah.

Apakah Coach Aji lupa menyalakan Navigasi? Bukan bermaksud berbicara omong kosong atau mengomentari hasil dari laga yang sudah usai. Sejak laga pertama, Redaksi langsung menyoroti pemain nomer 13 dalam kubu Bajol Ijo. Di plot sebagai gelandang dan Ban Kapten melekat ditangan kirinya, hal ini cukup menjadi bahan bagi kami untuk mengkritiki pemilihan pemain dan pemberian mandapat Leader dalam pertandingan.

R13 memang sering menempati posisi itu di Timnas Era STY, tapi apakah pemilihan posisi itu juga cocok diterapkan di Persebaya? Kami lebih sering melihat Ricky Kambuaya yang turun untuk memotong bola. Permainan bola-bola pendek yang menjadi ciri khas seakan amblas tak tergagas.

Juga pada laga kedua, Persebaya memang menang pada laga itu. Tapi hal ini terjadi berulang seperti tidak ada evaluasi dari Tim pelatih. Kurang lancarnya aliran bola dari lini tengah memaksa Taesei Murakawa mobile dari kiri-kanan bahkan turun agar aliran bola tak terputus.

Dan puncaknya pada laga Ketiga, Bajol Ijo kembali tumbang. Tiga laga telah dilakoni kalah 3-1, menang 3-1 dan kembali kalah dengan skor 3-1. Bila angka tersebut dibalik dan kita para suporter menggunakan ilmu cocoklogi, akan tercipta angka 1-3 atau 13. Sedangkan dari tiga laga awal kami terus menyoroti aksi R13 di lini tengah yang terkesan lambat dalam memotong dan mengalirkan bola.

Pemilihan Ban Kapten juga turut kami soroti, Kapten sejatinya adalah seorang pemimpin. Memiliki mental yang tangguh dan mampu menenangkan Tim ketika keadaan lagi tidak kondusif. Pemilihan ini seharusnya menggunakan nalar tanpa ada tendensi dari pihak manapun. Yang kami rasakan pemilihan Kapten ini tidak memenuhi kualifikasi yang kami jabarkan di atas.

Awak kabin disini kami jabarkan sebagai Skuad Persebaya Surabaya. Tiga laga awal sama sekali tidak mencerminkan sejatinya Skuad Bajol Ijo. Lembek, sering salah umpan, memaksakan long ball bukanlah ciri khas permainan Arek-Arek Suroboyo.
Kami paham awak kabin biasanya bekerja atas instruksi dari Nahkoda, tapi jiwa dan mental petarung itu muncul dari individu para pemain.

Bila pada pertandingan selanjutnya masih seperti ini, silahkan angkat kaki. Kami tak perduli. Karena Persebaya adalah Jiwa dan Raga.

Related posts

TretTetTet Bantul

Redaksi Green Nord 2

Aduhh.. Suporter Big Match, Klubnya Mengeluh

Green Nord

Wajah Kebrutalan Aparat Kepolisian di Surabaya

Redaksi Green Nord

1 comment

Comments are closed.